Beranda > Agama > Strategi Bisnis Rasulullah

Strategi Bisnis Rasulullah

timbanganKesuksesan Rasulullah Saw ternyata bisa menghasilkan berbisnis tanpa meninggalkan, mengabaikan atau tanpa melakukan kompromi dengan nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan amanah. Strateginya juga ternyata sebagai refleksi dari 4 sifat asasi beliau yaitu Siddiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah.

Adapun rincian startegi bisnis Rasulullah Saw adalah sbb:

1. Rasulullah Saw berbisnis tanpa memiliki modal.

2. Rasulullah Saw berbisnis tanpa memiliki koneksi.

Dalam kondisi demikian Rasulullah memulai bisnisnya dengan dagang bukan produksi. Dalam hadits disebutkan bahwa ada 10 sumber penghasilan, 9 diantaranya adalah dagang. Inti dagang menurut Ibnu Khaldun adalah mengetahui dimana beli yang murah, dan jual yang mahal. Memang beliau ikut pamannya Abu Thalib tapi Abu Thalib bukanlah seorang konglomerat, melainkan sebagai pedagang pas-pasan. Sehingga dari kondisi ini Rasul memulai bisnisnya dengan dagang. Sebenarnya sebelum hal ini beliau lakukan yang pertama kali Rasul lakukan adalah mengalahkan diri sendiri (Mujahadah). Dalam istilah bisnis ini disebut dengan mental blocking. Dalam usia relatif muda, 12 tahun beliau tidak memiliki lagi mental blocking.

3. Rasul Saw mulai masuk sektor produksi ketika berada di Madinah.

Iklim di Madinah waktu itu adalah kecurangan timbangan. Kemudian Rasulullah malah menyuruh untuk sedikit melebihkannya. Walaupun margin per transaksinya kecil tepi sales volumenya besar. Sehingga akhirnya rasulullah dapat menguasai pasar. Pelajaran yang dapat kita petik adalah bahwa Rasulullah tidak membalas kecurangan dengan kecurangan. Dengan kata lain penipuan dihadapi dengan sedekah.

4. Taktik bisnis beliau selalu menjaga nilai kejujuran tetapi dibalut dengan kecerdikan (fathonah).

Kasus Bilal, yang akan menukar kurma yang baik dengan yang buruk ternyata tidak disetujui Rasulullah. Ini menandakan bahwa rasul tahu betul untuk tiap-tiap kualitas barang ada supply dan demand.

5. Rasulullah Saw menjual barang dengan kualitasnya masing-masing.

6. Dalam investasi Rasulullah cenderung tidak melakukan pinjaman, tetapi mengambilnya dari kumulasi profit.

7. Dalam berbisnis, rasulullah lebih memprioritaskan pembayaran hutang dari pada pemutaran untuk modal. Namun ada yang lebih prioritas lagi yaitu gaji pegawai.

Kategori:Agama
  1. nancy
    8 April, 2008 pukul 10:59 am

    Subhanaullah, bagus sekali isinya. Saya bisa minta referensi bukunya dari mana. Saya tunggu jawabannya. smoga yang nulis dapat berkah dari Allah.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: